Features: Minangkabau Cup di Persimpangan Jalan

Features: Minangkabau Cup di Persimpangan Jalan

Oleh: Rizal Marajo
(Wartawan Utama)

Tiga tahun terakhir, sepakbola Sumbar dibuat bergairah dan hidup, dengan adanya Turnamen antar Kecamatan. Turnamen yang berjudul Minangkabau Cup dikemas sedemikian rupa dengan berbagai inovasi dan kreatifitas sehingga  tampil beda, dan jadi daya tarik tersendiri. 

Misi awal yang hendak dicapai Turnamen ini, untuk mengeksplorasi dan memberi panggung bakat-bakat muda dari berbagai pelosok nagari. Muara dari tujuan itu adalah mencari dan menjaring pemain untuk cikal bakal tim Pra PON Sumbar untuk PON 2020. 

Tiga tahun berlangsung 2016-2018, misi yang dilabeli "Mambangkik Batang Tarandam" untuk membentuk tim hebat yang akan membawa nama Sumbar ke PON 2020, terus digaungkan Panpel Minangkabau Cup. Apalagi ditambah tagline yang menyentuh, "Bakti untuk Nagari", membuat turnamen ini serasa benar-benar milik dan kebanggaan warga Sumbar.   

Akhirnya, medio 2019 terbentuklah tim Pra PON Sumbar dengan mengedapankan satu pesan, bahwa pemain-pemain yang mengisi skuad Sumbar adalah jebolan Minangkabau Cup, setidaknya pernah bermain membela kecamatannya di Minangkabau Cup. 

Sampai disini misi sukses. karena tujuan menjaring potensi-potensi muda terbaik Ranah Minang melalui Minangkabau Cup sudah terwujud. Makin klop, tim ini disiapkan langsung dibawah manajemen Minangkabau Cup. 

Sayangnya, saat terjun di gelanggang sesungguhnya, yakni Porwil Bengkulu sebagai arena kualifikasi untuk merebut tiket ke Papua 2020, tak berhasil. Terjegal oleh Sumut di langkah terakhir, membuat impian melihat "The Dream Taam" Sumbar di Papua harus disimpan lagi. 

Tak perlu diuraikan disini mengapa misi ini 'failed", yang jelas sebuah pelajaran terpentingnya adalah, bahwa mengurus dan menciptakan sebuah tim yang solid dan kompetitif itu tidaklah semudah itu. Butuh harmonisasi, satu visi dan tujuan, bekerja dengan hati, dan selanjutnya saluang sajalah yang menyampaikan. 

Sekarang pertanyaannya, bagaimana nasib Turnamen Minangkabau Cup, pasca kegagalan tim Sumbar lolos ke PON. Yang pasti, turnamen ini sudah kehilangan tema utama yang sudah diusung sejak edisi pertama turnamen. Perlu dipikirkan tema baru jika turnamen memang akan dilanjutkan.   

Hardimen Koto, Sang Sutradara dibalik Turnamen Minangkabau Cup dan tim Pra PON sumbar, pastinya kini sedang puyeng memikirkan apakah turnamen yang dibidaninya bersama Spartan Enterprise perlu dilanjutkan atau tidak. 

Kalau dhentikan, sudah pasti banyak yang merasa kehilangan dan kecewa. Yang paling kehilangan tentu saja para pemain. Mereka akan kehilangan panggung terbaik untuk menampilkan kebolehan dalam sebuah turnamen yang tertata rapi, dan gaungnya sampai terdengar di tingkat nasional. 

Tidak ada Turnamen yang bisa melibatkan 5000 orang pemain dan ratusan pelatih dari berbagai pelosok Sumbar. Tidak ada turnamen yang membuat nadi sepakbola di seluruh Sumbar bisa berdenyut kencang.  

Belum lagi gairah sosial yang ditimbulkan turnamen. Masyarakat punya tontonan, ikut bangga mendukung dan menyaksikan anak kemenakan mereka di lapangan, Pak Camat dan Walinagari ikut sibuk, Pak Dewan ikut pula "sato sakaki" membantu tim dapilnya. O ya, Pedagang kuliner di seputar lapangan terlihat bersiul-siul senang, senyumnya merekah. 

Di bench, pelatih-pelatih terlihat bergaya, walau  belum punya lisensi kepelatihan, tapi semangatnya dan gesturnya membuat kita tersenyum senang melihatnya saat memberi instruksi. Walau ada kesan copy paste gaya pelatih-pelatih ternama, tapi semuanya terlihat bahagia. 

Ya, bahagia itulah kata kuncinya: "Membuat turnamen seperti MKC ini tidak mudah. Semua hal harus terencana. Kadang harus jumpalitan dibuatnya untuk mencari dana dan sponsor. Melelahkan, tetapi membuat bahagia. Terharu saya ketika netizen seperti satu suara meminta turnamen dilanjutkan. Bukankah mereka butuh dan berhak bahagia juga dengan adanya turnamen ini."ujar Hardimen Koto, Steven Spielberg-nya turnamen.      

Entahlah, apakah itu sebuah sinyal bahwa Turnamen MKC akan tetap berlanjut? Belum dapat dipastikan, hanya Tuhan dan Hardimen Koto dan kawan-kawan di Spartan Enterprise yang tahu jawabannya. Mungkin analoginya seperti itu. Idealnya, memang turnamen ini harus tetap ada. 

Tetapi, jika pada akhirnya MKC tidak berlanjut, maka makin paripurnalah nasib bola Sumbar dalam mendung dan kelesuan. Tidak ada gairah, kehilangan darah, dan tak ada lagi identitas bola yang membanggakan Sumbar yang tersisa. 

Faktanya, dunia sepakbola Sumatra Barat memang sedang dirundung mendung. Berbagai kegagalan dan prestasi tak bagus mewarnai kiprah tim-tim bola Ranah Minang. Bisa dibentang satu-persatu kegagalan itu. 

Selain kegagalan tim Sumbar yang gagal lolos ke PON 2020 seperti yang sudah dipaparkan diatas, tentu harus menyebut sang icon bola Sumbar, yakni tim Semen Padang FC yang berlaga di Liga 1. Jika diibaratkan, eksitensi "Kabau Sirah" di kasta tertinggi sudah sperti telur diujung tanduk. 

Sampai pekan ke-27, tim ini masih berada di dasar klasemen. Realistis saja, butuh keajaiban bagi Semen Padang untuk bisa selamat. Memenangkan tujuh laga sisa baik dikandang maupun tandang, adalah pekerjaan maha berat yang akan dilakoni tim ini. Walau begitu, Pecandu bola Ranah Minang, masih berharap tim ini tetap berlaga di Liga 1. 

Apa lagi? O ya.. satu-satunya tim Liga 3 Sumbar yang berada di Pra Nasional, Solok FC juga sudah ngos-ngosan. Pindah kandang dan beralih pemilik ke ke 50 Kota dengan nama SEL 50 FC, tim ini juga hanya menjadi bulan-bulanan lawan di tiga laga yang sudah dimainkan. 

Seperti halnya Semen Padang yang butuh miracle, SEL 50 FC juga butuh itu untuk bisa bertahan di level nasional. Kalau tidak, tahun depan harus mulai lagi dari bawah, bermain di tingkat Provinsi.

Masih Ada Lagi?