Features: Hanya Untukmu, Jangan Tanya Alasan Kami Mencintai "Kabau Sirah"

Features: Hanya Untukmu, Jangan Tanya Alasan Kami Mencintai "Kabau Sirah"


Oleh: Rizal Marajo

AGAK  terenyuh saya, ketika di medsos bergulir kabar kurang sedap tentang suporter Semen Padang yang hadir di Stadion Kanjuruhan Malang. Dua "kekalahan" mereka dapatkan malam itu. Kekalahan pertama, tatkala tim kesayangan kalah dari tuan rumah Arema FC, yang membuat jurang degradasi semakin menganga. 

Tapi ada kekalahan lain yang mungkin jauh lebih menyakitkan. Usai laga, pemain mendatangi suporter di salah satu pojok tribun Kanjuruhan. Kedatangan pemain disambut dengan koor menyanyikan anthem "Hanya Untukmu". 

Tak peduli hasil pertandingan, kalah atau menang, mereka bernyanyi bersemangat melantunkan lirik demi lirik lagu. Anthem, bagi sebuah klub dengan suporternya, adalah simbol kebanggaan, spirit, dan rasa cinta yang tak bertepi. 

Sayangnya, ketika lagu itu belum selesai dinyanyikan, pemain sudah meninggalkan tempat. Kabarnya seorang staf pelatih memberi isyarat segera masuk locker room. Alasannya, sang head coach Eduardo Almeida sudah masuk locker room. 

Apa salahnya selesaikan dulu lagu itu, toh lagu itu tak panjang. Kalau panjangnya seperti November Rain atau Estraged-nya GNR, bisa dimaklumi mereka buru-buru kabur. Satu lagi, kalau alasannya pelatih kepala sudah masuk locker room, tak perlu pula sang staf pelatih itu takut dimarahi atau takut kena "lampang". Seorang kaliber Eduardo Almeida, pasti paham apa itu suporter, apalagi anthem. 

Inilah yang membuat para suporter agak berhiba hati, karena ada kesan "lagu kebangsaan" klub dianggap terlalu ringan dan sepele. Entahlah, terlepas dari apa yang terjadi dan masing-masing dengan argumennya, tapi wajar jika suporter meletupkan perasaannya atas "insiden" itu. 

"Kalau tak salah ini sudah yang keempat kalinya, di Bandung, Lampung dan Bekasi juga seperti itu. Salahkah kami, jika kami meminta team sedikit respect dan paham apa artinya sebuah anthem dan bagaimana perjuangan suporter bisa sampai di stadion."ucap seorang pentolan suporter.

Saya pribadi, sangat memahami bagaimana "cinta rumit" yang mengharu-biru perasaan seorang suporter. Walau tak pernah habis-habisan berjibaku di tribun bersama mereka, tapi sedikit banyak saya terlibat dalam berdirinya dua kelompok suporter Semen Padang, Spartacks dan The Kmer's. 

Saya paham apa yang meletup di hati mereka, jika berbicara tentang tim kesayangan. Sebuah rasa yang tak terbendung oleh apapun. Tak bicara pamrih, rela menghabiskan waktu, berkorban apa saja agar bisa mengiringi dan mendukung tim kesayangan bertanding. 

Saya jadi ingat ketika spartacks awal berdiri, mereka patungan bikin baju. Hanya satu lusin baju pertama mereka. Kebetulan, saya yang bantu bawakan baju itu ke Solo tatkala Semen Padang berjuang merebut tiket ke ISL tahun 2009. 

Di Solo, mereka yang datang dari berbagai kota di Jawa dan dengan berbagai cara untuk sampai ke Solo begitu bangga memakai t-shirt murahan itu. Mereka  berganti-ganti memakai. Satu rasa satu baju, kira-kira seperti itu ilustrasinya. 

Dengan baju mereka yang basah kuyup, saya juga merasakan pelukan hangat mereka sambil menangis bahagia, ketika Semen Padang memastikan lolos ke ISL ditengah hujan lebat di Stadion Manahan Solo. Untuk apa mereka kesana? Juga ke Kanjuruhan malam itu. 

Hanya satu kata, cinta! Jangan pernah bertanya kepada mereka tentang alasan mengapa mencintai Semen Padang. Mereka tak butuh kata-kata manis, karena bagi mereka mencintai hanya bisa dijawab dengan ekspresi dan spontanitas yang tak dibuat-buat. 

Tidak salah jika ada yang memberi tips, untuk urusan cinta dan loyalitas, tak ada yang lebih baik, kecuali belajar kepada suporter sepakbola. Meski hanya sebagai penonton, penikmat, dan pendukung tim, terkadang mereka kurang dipandang. Istilah paling mewah bagi mereka adalah pemain ke-12. Hanya itu. 

Tak ada hotel nyaman, atau akomodasi hangat setiap mendampingi tim. Tapi seorang supporter sepakbola bola tetap teguh, setia mendukung tim kesayangannya. Cinta supporter sepakbola adalah cinta sejati tanpa pamrih, pastinya tanpa batas. 

Hampir dipastikan, mereka tak pernah membayangkan untuk dapat apa setelah habis-habisan mendatangi stadion demi stadion, karena yang ada dalam benak mereka hanya memberi, bukan menerima.

Jika hakikat cinta adalah memberi, maka supporter sepakbola adalah pencinta sejati. Datang ke stadion dengan biaya sendiri, mendukung dari tribun dengan sepenuh hati, berteriak hingga suara nyaris tak tersisa, adalah ciri khas dan style mereka. Mereka berjuang dengan caranya sendiri, dan ada air mata disana. 

Mereka terisak-isak saat tim kesayangannya mengalami kegagalan, dan air mata bahagia mengalir tanpa disadari saat menikmati kemenangan. Tak pernah membayangkan ikut memegang piala dan hadiah yang diterima tim. Dalam benak mereka hanya satu: siap mengorbankan apapun demi tim kesayangannya. Memilih mencintai sebuah tim, berarti juga siap untuk terluka. 

Sebab, di sepakbola dan dunia suporter-nya, cinta tak selamanya berjalan indah dan bahagia. Ada kalanya tawa yang menghiasi, tapi di waktu yang lain justru tangis dan duka yang menemani. 

Mungkin inilah yang mendera hati suporter Semen Padang hari ini, terkait performa tim yang naik turun dan masih berkutat di zona merah. Kesetiaan dan kebanggaan yang tersisa lewat Anthem, itulah yang coba mereka tunjukkkan di Stadion Kanjuruhan malam itu. Sayangnya, respon tim sedikit mengecewakan mereka. 

Well, saya hanya ingin hal ini tak menjadi sebuah polemik yang menganggu hubungan harmonis antara tim dan suporter. Jauh lebih penting fokus membantu tim yang tengah berjuang untuk lolos dari ancaman degradasi. Sikap saling respect, saling menghargai, saling mendukung, antara tim dan suporter itu jauh lebih baik. 

Terlalu besar yang dipertaruhkan, nama besar Semen Padang FC dan Ranah Minang memang sedang diuji. Semoga di Stadion PTIK Jakarta nanti, semuanya akan terlihat indah dan penuh tawa bahagia. Indah di lapangan, indah juga di tribun. Bersama menyanyikan "Hanya Untukmu".  

Disini kami berdiri hanya untukmu 
Tanpa rasa lelah
Disini kami bernyanyi hanya untukmu 
Mendukungmu Kabau Sirah

Bermainlah dengan rasa bangga 
Demi lambang di dada
Berjuanglah tanpa rasa lelah
Kita rayakan bersama.