Dibalik Karir Seumur Jagung Nilmaizar di Lapangan Hijau; Antara Marzuki Nyakmad, Juergen Kohler, dan Lutut yang "Hancur" 

Dibalik Karir Seumur Jagung Nilmaizar di Lapangan Hijau; Antara Marzuki Nyakmad, Juergen Kohler, dan Lutut yang "Hancur" 

Oleh: Rizal Marajo

"Kalau ada hal yang membuat saya sedih luar biasa selama menggeluti sepakbola,
tentulah karir saya sebagai pemain sepakbola yang tergolong singkat dan hanya seumur jagung. Saya harus gantung sepatu diusia 28 tahun. Cedera yang tak bisa disembuhkan, itulah penyebabnya. Tapi ada hikmah besar dibalik itu semua"


Mungkin sudah menjadi takdir Nilmaizar, kalau durasi karirnya sebagai pemain sepakbola tergolong sangat singkat. Dia harus merelakan karirnya terhenti di usia yang seharusnya sedang menuju kematangan. Umur 28, bagi pemain sepakbola secara teori adalah klimaksnya. Tapi Nilmaizar harus berhenti di usia semuda itu.  

"Saya tak hendak menyesali hal itu, tapi menerima dengan kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Saya hanya mencoba mengambil hikmahnya, itu adalah kehendak Yang Maha Kuasa."ujarnya.  

Cedera pemutus karir itu didapatkannya ketika tak lagi bermain di Semen Padang, tapi semasa di PSP Padang. Di kompetisi Divisi I tahun 1998/99, PSP Padang berhadapan dengan Persita Tangerang di Stadion Benteng Tangerang. 

Dalam sebuah moment perebutan bola, lutut kanannya dihantam telak oleh pemain asing Persita asal Kamerun, Bako Sadissou. Cedera yang lazim disebut hamstring itu, lututnya “hancur”. Dan upaya pengobatan, baik secara medis maupun tradisional tak banyak membantu. 

Memang untuk beraktifitas ringan atau bermain bola sekadarnya, pria kelahiran 2 Januari 1970 itu  masih bisa, tapi untuk bertarung di sebuah kompetisi yang keras, lutut itu terlalu beresiko untuk dibawa kembali ke lapangan hijau. 

Sebelumnya, Nil juga sudah punya riwayat cedera yang cukup parah, dan harus absen di lapangan hijau selama tiga bulan. Itu terjadi saat masih di Galatama Semen Padang. Saat melawan Assyabaab SG di Surabaya, lutut yang satunya lagi juga sudah invalid diterjang Toyo Haryono. 

Dengan dua lutut yang sudah rusak, praktis dia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena lutut, adalah komponen fisik paling vital seorang pemain sepakbola. Tragisnya, Nil  justru mengalami masalah serius di kedua lutut itu. Itu sinyal yang sudah sangat jelas, bahwa karir bermainnya cukup sampai disini. 

Ini sebuah ironi buat Nil, karena sebelumnya dia jarang mengalami cedera, baik semasa di PSSI Garuda II maupun Pra Olimpiade. Secara fisik dia yang terbaik, bahkan untuk VO2 Max, dia adalah yang tertinggi saat itu. Tapi ketika terjun di kompetisi nasional,  dua kali mendapat cedera, keduanya parah dan langsung menghabisi karirnya. 

"Tapi itulah sepakbola, dunia lelaki yang memang keras dan rentan benturan fisik seperti itu. Karena tak hanya saya yang mengalami, banyak pemain-pemain lain, bahkan ditingkat dunia yang mengalaminya."cerita Nil  

Ironisnya lagi, dua pemain yang menjadi idolanya sebagai pemain sepakbola justru berperan menghentikan karir pemain lain. Idola untuk pemain Indonesia adalah Marzuki Nyak Mad. Stoper yang mulai dikaguminya ketika membela Timnas Indonesia di Pra Piala Dunia 1985, justru membuat karir Tiastano Taufik, rekannya sesama Timnas berakhir. Marzuki mematahkan tulang kering Tiastano dalam sebuah sesi latihan Timnas.

Sedangkan pemain idolanya di tingkat dunia adalah Juergen Kohler, stopper Timnas Jerman, yang pernah bermain di Borussia Dortmund. Kohler adalah salah satu orang paling bertanggungjawab terputusnya karir striker kesayangan rakyat Belanda, Marco van Basten di usia 30 tahun.

Kohler adalah satu-satunya orang Jerman yang dianggap mampu menghentikan van Basten. Itu sebabnya, dalam setiap pertemuan Belanda versus Jerman, Kohler akan menghentikan van Basten dengan berbagai cara, kalau perlu menghantamnya hingga cedera.  

Tingginya intensitas pertemuan dan rivalitas tinggi Jerman vs Belanda waktu itu, membuat van Basten selalu dapat hantaman serius dari Kohler, yang mengakibatkan lututnya tak bisa diselamatkan lagi. Bahkan salah satu media ternama Belanda, De Telegraf,  dengan sinis berteriak, Kohler adalah “pembunuh” sejati karir van Basten. 

Itulah bedanya Nil dengan para idolanya diatas. Kalau sang idola menghentikan karir pemain lain, bagi Nil justru dia jadi korban pemain lain. "Tapi sudahlah, itu sudah kehendak-Nya, dan saya yakin ada rencana lain yang lebih baik dari-NYA, dibalik singkatnya karir saya sebagai pemain sepakbola."

Tapi karena sepakbola sudah menjadi pilihan hidupnya, dan tak bisa lepas dari olahraga itu, Nil tetap berkiprah di bola melalui di jalur lain, menjadi pelatih adalah solusi. Tekad baja untuk menjadi pelatih, membuat Nil terus belajar, dan terus mengambil lisensi demi lisensi kepelatihan, sampai tingkat teringgi. 

Usaha keras dan keseriusannya menggali potensinya sebagai pelatih, tak sia-sia. Hanya dalam rentang satu dekade, orang sudah mengenal dan menempatkannya sebagai salah satu pelatih level atas nasional, sampai hari ini.(*)