Catatan Rizal Marajo; Nilmaizar, Bermula dari Lapangan UNP dan Perjalanan Luar Biasa Anak Nunang  

Catatan Rizal Marajo;  Nilmaizar, Bermula dari Lapangan UNP dan Perjalanan Luar Biasa Anak Nunang   

Suatu hari di akhir tahun 2000
Di Lapangan sepakbola Universitas Negeri Padang (UNP), berlangsung pertandingan bertajuk turnamen  Artha Buana Cup. Hari itu, salah satu tim yang bertanding adalah PS. Machudums's Padang. 

Saya sebagai wartawan pemula, layak disebut wartawan "icak-icak" yang sedang magang di sebuah koran Harian, tiap hari ditugasi menongkrongi turnamen tersebut. Jujur saja, saya memang sangat menunggu Ps. Machudum's bermain. 

Alasannya, cuma ingin bertemu pelatih klub itu. Sang pelatih, sepuluh tahun terakhir sudah sering saya baca namanya di koran-koran daerah, bahkan di tabloid-tabloid olahraga nasional.  

Seorang Anak Minang, yang saya tahu dia dari Payakumbuh, mantan pemain Timnas, pernah melanglang buana ke luar negeri, bahkan sempat berlatih dan bermain di klub Eropa. Kemudian dia pulang kampung, bermain untuk dua klub kebanggaan Ranah Minang, Galatama Semen Padang dan PSP Padang. 

Namanya begitu familiar bagi saya, walau sekalipun belum pernah bertemu, bertatap muka, atau bersalaman. Namun, saat itu namanya seperti menghilang, setelah karir sepakbolanya tamat akibat didera cedera akut. 

Saya dapat kabar, dia menjadi pelatih PS.Machudum's, sebuah klub anggota bonden PSP Padang. Ini yang membuat saya selaku wartawan baru, ingin bertemu sang pelatih yang telah menyita perhatian saya bertahun-tahun. Ya, Nilmaizar namanya, walau dulu di media namanya sering ditulis Neil Maizar. 

Usai pertandingan itu, saya bergegas ke bench Machudum's, saya tunggu dia selesai briefing usai laga dengan pemainnya. Setelah itu baru saya menemuinya. Dia menyambut hangat, waktu saya perkenalkan diri sebagai wartawan olahraga baru di harian itu. 

"Saya tahu abang, mantan pemain PSSI Garuda II, senang bertemu abang."ujar saya membuka pembicaraan. Tak disangka, dia sedikit tersentak, ketika saya menyebut Garuda II. Dia pun terpana memandang saya beberapa saat. 

Entahlah, mungkin dia kaget masih ada orang yang mengingat kiprahnya di proyek sepakbola prestisius tahun 1987-1991 itu. Dia satu-satunya anak Sumbar yang terpilih masuk proyek itu. Tak sekadar masuk, tapi mampu menembus tim inti, bahkan mendapat kesempatan berlatih ke Eropa. Kemudian dia juga menjadi pemain inti juga ketika Tim Garuda II menjadi pilar tim Pra Olimpiade 1991. 

Ketika orang-orang mulai lupa kiprahnya di Tim yang mungkin menjadi era termanisnya sebagai pemain sepakbola, tiba-tiba saya datang mengingatkannya ketika dia mulai merintis karir sebagai pelatih di sebuah klub kecil. 

Itulah awalnya saya bertemu Nilmaizar. Itupula awal sebuah kisah persahabatan, pertemanan, bahkan telah menjurus ke sebuah hubungan persaudaraan. Setelah itu, komunikasi berlanjut, terkadang disertai diskusi, duduk minum bersama, dan topiknya sudah pasti bola. 

Saya setia mengikuti dinamika dan pasang surut perjalanan karir Nil yang dimulainya dari bawah. Keluar masuk sebagai asisten pelatih atau caretaker pelatih Semen Padang, sampai menjadi pelatih kepala tahun 2011. Saya selalu bersamanya, memberitakannya, menuliskan kegembiraan dan kesedihannya di lapangan bola, serta menyediakan diri sebagai teman diskusinya.

Disana ada hubungan lebih yang tercipta. Tak lagi sebatas antara seorang jurnalis dan narasumbernya. Ada komunikasi dan diskusi lebih, dibanding sekadar sebuah interview atau wawancara.           

Bahkan, ketika dia ditunjuk sebagai pelatih Timnas senior Indonesia ditengah gejolak dan konflik federasi, sungguh sebuah ujian luar biasa baginya sebagai pelatih. Saya selalu ada untuknya, menuliskan, mencoba meluruskan opini publik, dan membesarkan hatinya untuk tetap tegar melalui tulisan-tulisan di media.   

Saya juga mungkin satu dari sedikit orang yang tahu bagaimana Timnas sesungguhnya. Semuanya diceritakan kepada saya dari A sampai Z, tentang situasi dia menangani timnas ditengah konflik, dibawah hujatan bangsa sendiri, bahkan dia dan para pemainnya tak hentinya dilecehkan pihak-pihak yang berseberangan. 

Kenapa saya? yang hanya seorang jurnalis. Tapi sekali lagi, karena dia menganggap saya tak hanya sebatas jurnalis saja. Tapi seorang teman, sahabat, saudara, bahkan berkali-kali dia menyebut saya sebagai keluarganya. Setinggi itukah dia menempatkan saya di hatinya? 

Alhamdulillah, saya pun memposisikan dirinya seperti itu juga. Dia pun saya anggap sebagai teman, sahabat, dan saudara saya. Saya akan ada untuknya, apapun kondisinya, apapun situasinya, kalau dia membutuhkan saya. Kira-kira seperti itu sosok seorang Nilmaizar bagi saya. 

Dia sosok yang inspiratif,  banyak berbagi pengalaman, dan mengajarkan saya banyak hal. Tak hanya soal sepakbola, tapi hal-hal lain pun coba ditularkannya, semisal bagaimana menghadapi sebuah tantangan pekerjaan dan bagaimana bekerja dengan hati. 

Juga soal totalitas dan kerja keras, terkadang sampai filosofi kehidupan, tentang bagaimana menciptakan dan menyikapi sebuah masa depan, serta soal berprinsip menjalani sisi-si kehidupan tak luput dia share ke saya.    

Nilmaizar adalah sosok yang telah membuktikan, kalau apa yang didapatkannya sekarang, adalah buah dari sebuah kemauan, kerja keras, dan tak runtuh hanya oleh sebuah kendala yang dimulainya sejak usia belia. 

40 years Later!
Siapa menyangka, anak Nunang yang semasa kecilnya nakal, gemar berjudi kecil-kecilan, temperemental, dan hidup di pasar Payakumbuh dengan segala dinamikanya, menjelma menjadi sosok yang begitu inspiratif dengan dunia sepakbola yang dipilihnya.

Karena memang sepakbola yang "menyelamatkannya".  Sepakbola juga yang membawanya ke "dunia lain". Sepakbola yang disertai kemauan dan cita-cita yang tinggi, telah manariknya dari dunia anak-anak yang mulai liar. Siapa menduga, anak Nunang itu menapaki karirnya di sepakbola dengan luar biasa dan tak terbayangkan sebelumnya. 

Umur 15 Tahun, dia yang termuda di tim Porda Kota Payakumbuh. Berlanjut dipanggil masuk Diklat Padang, Diklat Ragunan, dan masuk Proyek prestisius PSSI Garuda II. Dari situ anak Nunang itu menjejakan kakinya di Eropa. 

Perjuangan keras dan kegigihan itu telah menempanya, dan secara tak sadar dia sejatinya tengah menciptakan masa depannya yang cerah. Pemuda remaja usia 19 tahun ditempa di Eropa, cuaca dingin Kota Praha, kendala bahasa, makanan, dan gaya hidup, ditengah deraan kerinduan pada rumah dan kampung halaman.

Tapi semua itu menciptakan Nilmaizar yang berbeda di kemudian hari. Kuncinya adalah kemauan, kerja keras, dan tak melupakan peran Yang Maha Kuasa.  

Siapa pula yang menyangka, Si Panil (panggilan akrabnya di kota Payakumbuh), sekarang menjadi seorang yang sangat populer, punya nama besar, dan pastinya diperhitungkan di persepakbolaan Nasional. Salah satu sosok kebanggaan Ranah Minang di sepakbola. 

Nilmaizar, perjalanan hidup dan karirnya di sepakbola sangat layak dijadikan inspirasi bagi generasi di belakangnya. Khusus bagi saya, dia adalah "special man", dan beruntung bisa berdekat-dekat dengannya secara emosional. 

Ikatan emosional yang tercipta bertahun-tahun itulah, yang membuat saya siap menyediakan diri, tenaga, dan pikiran untuknya. Pun, ketika dia mencoba tantangan dunia politik, yang sejatinya saya tak terlalu suka, saya tetap datang ketika dia membutuhkan saya. 

Bagi saya, setelah bertahun-tahun sejak pertemuan di Lapangan UNP itu, tidaklah sekarang saya mengatakan tidak untuknya, ketika dia menjajal dunia politik. (Rizal Marajo)