Catatan Ringan: Jika Transisi dan Finishing Oke, Tiga Angka Milik "Kabau Sirah"

Catatan Ringan: Jika Transisi dan Finishing Oke,  Tiga Angka Milik "Kabau Sirah"
Syafrianto Rusli, pelatih Semen Padang. (foto: istimewa)

Oleh: RIZAL MARAJO

Meraih dua angka dari tiga laga, dua diantaranya away dan satu laga kandang, sejatinya  hasil yang agak minor bagi sebuah tim di liga 1. Kelaziman di sepakbola Indonesia, minimal tiga angka dikantongi, yakni dengan memaksimalkan status tuan rumah.

Itulah capaian Semen Padang sampai matchday 3 Liga 1 Indonesia 2019. Rumus klasik sepakbola Indonesia, tuan rumah "wajib" menang umumnya masih berlaku. Tetapi rumus itu gagal dipenuhi Semen Padang saat menjamu Persib dalam laga sebelum lebaran.

Hanya satu angka dari Persib, ada dua angka yang hilang. Artinya, kehilangan angka itu harus ditebus dalam laga kandang melawan Perserui Badak Lampung FC malam ini. Wajar jika pelatih Syafrianto Rusli menetapkan laga ini sebagai laga "harga mati" untuk menang.

Akan banyak impact-nya, karena sangat merugikan jika "Kabau Sirah" terlalu sering kehilangan angka di kandang sendiri. Akan sulit mengejar ktertinggaln angka dari pesaing. Karena di Indonesia, untuk memburu poin di kandang lawan, adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan.

Tim "away" tidak hanya berhadapan dengan pertarungan teknis dan strategi di lapangan, tapi juga ada faktor non teknis yang terkadang lebih menentukan. Hanya tim-tim yang secara teknis sangat superior yang bisa menaklukan mitos away Liga Indonesia.

Impact berikutnya tentu untuk sang pelatih sendiri. Sorotan dan kritik akan berhamburan jika Semen Padang meraih hasil minor di kandang.

Artinya, melawan Badak Lampung adalah laga yang benar-benar harus diamankan Semen Padang. Tiga angka krusial yang harus dikantongi oleh Irsyad Maulana dkk.

Kalau berkaca dari segi teknis, tiga penampilan yang sudah dilakoni Semen Padang, cukup terlihat adanya progres permainan, walaupun dari segi hasil akhir belum sesuai harapan.

Kalau dicermati dari tiga laga sebelumnya, dua hal yang masih jadi pekerjaan besar pelatih Syafrianto Rusli adalah soal transisi permainan dan finishing touch.

Dari laga melawan PSM makassar dan PSS Sleman, gol yang tercipta di gawang Semen Padang, salah satunya disebabkan proses transisi dari menyerang ke bertahan tidak berjalan baik.    

Lini belakang juga perlu dibenahi, karena organisasi pertahanan terkadang kehilangan fokus, ketenangan, dan juga kerap tidak sabar.

Masalah lain, Semen Padang juga dihadapkan pada finishing touch yang masih bermasalah. mencetak satu gol dari tiga pertandingan menjadi isyarat, ada yang harus di perbaiki di lini depan "Kabau Sirah".

Untungnya, dari statistik Badak Lampung juga tak terlalu bagus dalam sisi pertahanan. Komunikasi pemain belakang kerap tidak jalan, plus Compact defend tim asuhan Jan Saragih ini tidak terlalu bagus. Jika Semen Padang bisa menerapkan pressure yang stabil, bisa menjadi celah yang bisa dimanfaatkan.

Kelemahan lain Badak Lampung yang bisa diekplorasi Semen Padang adalah dari segi set piece. Kelemahan Badak Lampung yang terbaca saat mereka lawan PSM Makassar adalah, Reading the game, koordinasi, dan komunikasi saat lawan melakukan Set piece juga terlihat lemah.

Hal lain, Badak lampung juga bisa diekplorasi dengan bola-bola atas. Lini pertahanan mereka kerap kehilangan posisi, salah mengatur jarak, dan komunikasi jika dicecar dengan bola atas ke kotak penalti.

Celah yang sangat mungkin ditembus Semen Padang, terutama jika striker sejangkung Karl Max Bathelemy bisa bermain lebih pintar dan punya hoki di laga ini. Sepertinya orang Chad ini akan membuka kran gol pertamanya di laga ini.

Well, laga ini sepertinya memang akan menjadi milik Semen Padang, yang memang sudah "lapar" untuk meraih tiga angka pertamanya. Kalau tidak menang lagi? Sungguh terlalu. (*)