Catatan Ringan: Black or White Tim Pra PON Sumbar 

Catatan Ringan: Black or White Tim Pra PON Sumbar 

Oleh: RIZAL MARAJO

I am black or white, I'll never be grey in my life. When people succeed, it is because of hard work. Luck has nothing to do with success.”

Kalimat diatas adalah sebuah kutipan dari seorang legenda sepakbola dunia, Diego Maradona. Kira-kira bisa diartikan seperti ini; "Saya hitam atau putih, saya tidak akan pernah menjadi abu-abu dalam hidup saya. Ketika orang berhasil, itu karena kerja keras. Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan kesuksesan.”

.******
Jika ada tim sepakbola yang paling menarik perhatian publik di Sumbar saat ini, hampir dipastikan itu adalah tim Pra PON Sumbar. Pesaing terkuatnya dipastikan hanyalah tim senior Semen Padang Fc. 

Magnet yang ditebarkan tim Pra PON ini, disamping misi yang yang diusungnya untuk "mambangkik batang tarandam" sepakbola amatir Sumbar di ajang PON, tim ini juga terlanjur meroket popularitasnya berkat marketing digital yang dimainkan manajemen tim. 

Dalam waktu singkat, info tim yang baru selesai menjalani seleksi pemain ini sudah bertebaran di jagat medsos. Tak heran, tim ini begitu menggoda, banyak dilirik, dan di sisi lain melahirkan banyak ekspektasi.  

Tapi baru sekedar itu, semacam perkenalan ke publik sepakbola Sumbar dan masyarakat. Bahwa, Ranah Minang sudah punya tim sepakbola yang dipersiapkan mengambil tiket untuk berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua.  

Kalau bicara proses membangun tim, kita mungkin akan bertemu dengan angka nol. Soalnya baru sebatas melakukan seleksi dan mengumpulkan pemain yang dianggap layak menjadi bagian dari tim. Jangan dulu bicara latihan tactical dan strategi, bahkan persiapan umum sama sekali belum. 

Memang agak janggal juga kalau publik melihat tim yang prosesnya baru sejauh itu, sudah turun di sebuah turnamen dengan kondisi yang mungkin sedikit agak dipaksakan seperti itu. Manajemen pun berkelit, itu hanya bagian dari upaya perkenalan ke publik. 

Walaupun begitu, di kalangan pelaku bola yang paham arti kata "building team" akan menganggap aneh dan mengerinyitkan dahinya melihat apa yang diperbuat Tim Pra PON ini.  Turun di dua turnamen di waktu bersamaan, dibumbui pula duel segitiga disela-sela waktu tersebut.

Mau tak mau menimbulkan pertanyaan juga. Tim yang masih "kosong" dibawa hilir mudik bertanding. Mau dibawa kemana tim ini sebenarnya? 

Apakah tidak lebih baik tim ini fokus dulu pada persiapan umum. Misalnya, ambil Vo2max pemain, isi fisik pemain,  kemudian secara bertahap mulai diberikan tactical dan strategi. Setelah itu baru berfikir tentang ujicoba atau katakanlah mulai show di turnamen.  

Ketika mereka maju ke final turnamen Jordus Cup 2019, dan hanya kalah difinal, sebagian publik mungkin akan terkesan. Bayangkan, sebuah tim yang belum latihan sama sekali tahu-tahu mampu tampil sebagai finalis sebuah turnamen yang cukup kompetitif. 

Sejatinya, menjadi tidak penting, bahkan sangat tidak penting untuk memberi penilaian terhadap capaian tersebut. Sama tidak pentingnya kalau ada yang memuji tim ini mampu menembus final. 

Tidak penting juga menghujat tim ini karena melawan tim lokal kecamatan saja kalah di final, padahal Tim Pra PON dihuni kumpulan pemain-pemain yang dianggap terbaik di Sumbar saat ini untuk seusia mereka. 

Penilaian apa yang bisa diberikan kepada mereka, ketika semua proses pembentukan tim belum berjalan. Mereka tak lebih tim instant yang baru berkumpul beberapa hari, kemudian disuruh turun di sebuah turnamen. Artinya, hasil yang diperoleh di Jordus Cup tak memberikan referensi apa-apa. 

Mungkin yang perlu difikirkan manajemen tim, kembali ke jalur yang seharusnya dilakukan dalam pembentukan sebuah tim sesuai standar ilmu-ilmu kepelatihan sepakbola era sekarang. 

Proses yang benar dan terukur melalui sebuah program pelatihan yang disiapkan tim pelatih, akan jauh lebih menjanjikan hasil, ketimbang terlalu banyak show. 

Sekadar mengingatkan, November 2019 di Bengkulu sebagai arena peperangan sesungguhnya semakin dekat. Seharusnya, usai Ramadhan tim ini sudah "gaspoll" menjalani proses persiapan
umum. 

Lebih terasa lebih bernilai waktu yang tersisa dimaksimalkan untuk menempa para pemain di suatu kawah candradimuka. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk membentuk sebuah tim yang benar-benar solid. 

Masih ada waktu untuk mencari sumber-sumber daya pemain potensial yang belum terpantau untuk melengkapi tim. Mungkin masih ada "buah salek" yang manis lagi menggiurkan diluar sana yang belum dipanggil, jika yang ada sekarang dianggap belum memenuhi standart pelatih.    

Cukup sudah perkenalan ke publik, toh publik sudah tahu banyak tentang tim ini melalui digital marketing yang gencar dilakukan manajemen. Bersabarlah untuk ber-show ria, karena pastinya akan ada fase ujicoba dan mentas di hadapan publik sebelum berangkat perang.   

Jangan sampai manajemen tim yang sudah begitu bersemangat dan memberikan waktu dan ide-idenya untuk tim ini, jadi terlena dengan show sesaat di awal, tapi pada akhirnya akan menggerus misi yang diusung. 

Karena mimpi sesungguhnya adalah bekerja keras dan keseriusan berkadar 200 persen untuk membentuk sebuah "dream team" yang tangguh, solid, dan kompetitif. 

Yaitu, menciptakan mereka yang akan mengibarkan bendera "Tuah Sakato" di Papua nanti dan "Membangkik Batang Tarandam" sepakbola Sumbar di PON. Jangan sampai misi itu "berubah
warna", tergores oleh hal-hal kecil yang seharusnya tidak dilakukan.         

Well, selamat berpacu dengan waktu. Kami menunggu Anda untuk berkata; We don't want tell our dreams, We want to show Them.(*)